Langsung ke konten utama

COVID-19 MEWABAH, APAKAH INDUSTRY PERBANKAN SYARIAH SURVIVE?


Disaat perbankan nasional diprediksi akan mengalami depresi akibat pandemic covid-19, Bank Syariah memiliki keunggulan dengan konsep bagi hasilnya sehingga bisa satu level lebih kokoh dalam menghadapi krisis ekonomi yang terjadi saat ini. Di Bank Syariah besar rasio bagi hasil yang disepakati saat awal akad akan berlaku hingga akhir perjanjain, berbeda dengan bank konvensional suku bunga yang diterapkan bisa berubah sesuai dengan  suku bunga pada Bank Indonesia (BI) sebagai Bank Sentral sehingga presentasi bunga akan tetap walaupun pihak bank konvensional mendapatkan keuntungan tinggi maupun rendah. Sedangkan dari sudut perbankan syariah dengan bagi hasil yang diterapkan, tinggi rendahnya margin yang didapat pihak bank juga berpengaruh terhadap perolehan nasabahnya, disaat perekonomian sedang bagus dan bank mendapat keuntungan  yang tinggi atas pembiayaannya maka nasabah juga akan mendapat keuntungan yang besar pula, sebaliknya jika kondisi ekonomi sedang melemah seperti pandemic yang terjadi saat ini penyaluran pembiayaan menurun, pendapatan nasabah juga rendah maka porsi bagi hasilnya juga akan sedikit sesuai dengan perolehan pihak bank.
Menurut JP Morgan ada tiga risiko yang membayangi industry perbankan dalam masa pendemi covid-19 yaitu penyaluran kredit, penurunan kualitas asset dan pengetatan margin laba bersih. Dari ketiga resiko ini apakah bank syariah bisa lebih kuat dalam menghadapi krisis ekonomi akibat covid-19 dari bank konvensional? Dalam kondisi yang terjadi dewasa ini dalam hal penyaluran kredit akan mengalami pelambatan serta penurunan kualitas asset, ini berlaku baik di bank syariah maupun bank konvensional. Tetapi, dalam hal pengetatan laba bersih bank syariah sedikit lebih unggul dengan penggunaan sistem bagi hasilnya karena kondisi neraca bank bersifat elastis, dalam kondisi ekonomi stabil dan krisis karena antara bank syariah dan nasabah keuntungan dan kerugian akan ditanggung secara bersama. Berbeda dengan bank konvensional saat perekonomian melemah pendapatan bunga kredit akan menurun, hal ini tidak diimbangi dengan penurunan biaya bunga untuk para deposan sehingga pihak bank berupaya memenuhi kewajiban terhadap nasabahnya.
Menilik pada 22 tahun yang lalu, di Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi tepatnya tahun 1998 dimana yang dapat bertahan pada waktu itu adalah Bank Muamalat Indenesia (BMI) dengan prinsip bagi hasil yang dijalankan. Pada saat berlangsunya krisis, pemerintah menetapkan kebijakan suku bunga tinggi yang membuat beberapa bank konvensional dilikuidasi dikarenakan tidak mampu memenuhi kewajiban terhadap nasabahnya. Kondisi ini tidak terjadi pada perbankan syariah karena tidak menerapkan sistem bunga dalam operasionalnya sehingga dapat bertahan pada saat krisis ekonomi yang terjadi tahun 1998 yang ditandai dengan tidak adanya pergeseran negative (negative spread) yaitu selisih negatif antara bunga simpanan dan bunga kredit, dengan kata lain bunga yang harus dibayarkan pihak bank kepada nasabah simpanan jauh lebih besar dari bunga kredit, inilah mengapa perbankan Indonesia pada tahun 1998 terjebak dalam krisis moneter yang terjadi.
Sistem perbankan syariah muncul sejak tahun 1992 dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 yang diubah dengan Undang-Undanng No. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan sangat memungkinkan bagi bank menjalankan sistem operasionalnya dengan sistem bagi hasil, dan ditahun yang sama bank syariah pertama di Indonesia lahir yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI) beroperasi sejak 1 Mei 1992. Dan adanya regulasi tentang perbankan syariah yaitu Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah menjadi payung hukum untuk bank syariah tetap eksis di tanah air.
Saat ini krisis kembali terjadi, wabah covid-19 menyelinap kesemua sector kehidupan, yang paling buruk menyerang kesehatan public yang implikasinya bisa multi-dimensi, tentu saja jika kesehatan rapuh manusia sebagai subyek dalam segala sector tentu tidak dapat menjalankan tugas dan fungsinya. Musibah ini juga menjadi momentum pembuktian kedua kalinya bahwa ekonomi islam hadir sebagai ekonomi yang berkeadilan dengan keseimbangan antara pemenuhan hukum Tuhan (legal), kebutuhan diri (self-interest), kesejahteraan social (social-interest) dan kesinambungan lingkungan (ecological-interest). Focus pemerintah saat adalah menjaga kesehatan public, berbagai peraturan dikeluarkan pemerintah dalam pencegahan penyebaran virus. Industry perbankan syariah dapat mengambil peran untuk menyelaraskan perekonomian yang sedang lesu yakni dengan memberikan kelonggaran kredit, jadi bisa mambantu nasabah memanag keuangan rumah tangganya dengan skala prioritas atas pendapatan yang diperoleh disaat wabah ini, sehingga prinsip utama lembaga keuangan islam memberikan maslahah untuk seluruh umat tidak terabaikan dengan terlalu mengejar omset sehingga nasabah akan terbebani dengan setoran per bulan kepada bank, tanpa memedulikan kesehatan masyarakat berusaha memenuhi kewajibannya dengan tetap bekerja dan langkah antisipasi pemerintah juga akan sia-sia akibat ketidak patuhan masyarakatnya.
Fenomena Work From Home (WFH) yang dicanangkan pemerintah selama masa pendemi covid-19 dapat menjadi peluang bagi bank syariah untuk menggenjot pegawainya menjadi marketing digital yang mumpuni di era 4.0 ini untuk meningkatkan pangsa pasarnya dengan melakukan variasi inivasi produk-produk berbasis digital yang menarik para customer sehingga aktiva produktif bank syariah juga akan meningkat, maka bukan tidak mungkin akan menambah market share perbankan syariah di Indonesia. Melihat tiga resiko yang akan dihadapi perbankan syariah menurut JP Morgan tersebut, bank harus jeli dalam menentukan strategi apa yang harus dilakukan ditangah masa pendemi covid-19, sehingga perekonomian Indonesia tidak semakin down dan melakukan ekspansi ke segmen digital salah satu opsi yang menarik sekaligus menantang bagi pihak bank syariah karena terkait dengan kebijakan pemerintah  social distancing masyarakat juga lebih mudah melakukan transaksi dan berbagai kegiatan lainnnya dengann tetap dirumah dan berpenghasilan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Q & A SEPUTAR BANK SYARIAH

1.       Mengapa kita perlu mengidentifikasi kebutuhan nasabah ketika pengajuan pembiayaan ke bank syariah? Jawab Identifikasi kebutuhan nasabah yang melakukan pengajuan pembiayaan sangat diperlukan guna untuk mengetahui dan menentukan jenis pembiayaan dan akad apa yang cocok untuk diberikan kepada pihak nasabah sesuai dengan analisis yang dilakukan pihak bank syariah, dan apakah pembiayaan yang diajukan oleh nasabah sifatnya produktif atau konsumtif sehingga bank syariah dapat dengan mudah mengambil keputusan atas pengajuan pembiayaan tersebut. Dengan melakukan identifikasi atas pengajuan yang dilayangkan nasabah menjadi mikroskop pihak bank untuk menilai apakah nasabah mampu memenuhi akad hingga akhir perjanjian atau tidak sehingga dapat menghindari pembiayaan wanprestasi yang dapat merugikan pihak bank, menilai berapa besaran kemampuan nasabah dalam mengembalikan pembiayaan yang diberikan bank syariah baik itu modal maupun margin berupa bagi hasil yang...

Q & A SEPUTAR BANK SYARIAH

1.       Mengapa kita perlu mengidentifikasi kebutuhan nasabah ketika pengajuan pembiayaan ke bank syariah? Jawab Identifikasi kebutuhan nasabah yang melakukan pengajuan pembiayaan sangat diperlukan guna untuk mengetahui dan menentukan jenis pembiayaan dan akad apa yang cocok untuk diberikan kepada pihak nasabah sesuai dengan analisis yang dilakukan pihak bank syariah, dan apakah pembiayaan yang diajukan oleh nasabah sifatnya produktif atau konsumtif sehingga bank syariah dapat dengan mudah mengambil keputusan atas pengajuan pembiayaan tersebut. Dengan melakukan identifikasi atas pengajuan yang dilayangkan nasabah menjadi mikroskop pihak bank untuk menilai apakah nasabah mampu memenuhi akad hingga akhir perjanjian atau tidak sehingga dapat menghindari pembiayaan wanprestasi yang dapat merugikan pihak bank, menilai berapa besaran kemampuan nasabah dalam mengembalikan pembiayaan yang diberikan bank syariah baik itu modal maupun margin berupa bagi hasil...